WONOSOBO, suaralama.id – Angka stunting di Desa Reco, Kecamatan Kertek sebanyak 134 anak. Grebeg Stunting Setjonegoro merupakan upaya menekan angka stunting di desa tersebut. Masalah stunting erat kaitannya dengan kesehatan dan kebersihan lingkungan tempat tinggal.
RSUD KRT Setjonegoro menggelar Grebeg Stunting di Desa Reco, Kecamatan Kertek. Program tersebut merupakan bentuk kontribusi dalam menekan angka stunting, khususnya Desa Reco yang memiliki angka stunting cukup tinggi.
Kabid Keuangan RSUD KRT Setjonegoro Sudarpa sudarsono menjelaskan Grebeg Stunting merupakan bagian dari program rumah sakit tanpa dinding. Sehingga rumah sakit tidak hanya terbatas pada pelayanan saja melainkan mendukung upaya preventif dan promotif.

Grebek Stunting menghadirkan dokter spesialis anak, dokter kandungan, ahli gizi dan psikolog. Sehingga diharapkan secara klinis akan bisa mengetahui kondisi kesehatan anak, ibu hamil dan remaja.
“Selain kondisi kesehatan, kami berikan juga konseling psikologis dan gizi. Sehingga rumah sakit bisa memberikan andil dan ikut membantu memberi solusi untuk penanganan kesehatan di Wonosobo, tidak hanya stunting saja,” tutur Sudarpa pada sela-sela acara, Kamis (17/11) di Balai Desa Reco, Kecamatan Kertek.
Sudarpa menambahkan, di Kecamatan Kertek terdapat lima desa dengan angka prevalensi stunting tinggi, salah satunya Desa Reco. “Nanti tak menutup kemungkinan juga daerah lain akan kami lakukan hal yang sama,” kata dia.
Sementara itu Camat Kertek Singgih Kuncoro menjelaskan, ada sekitar 134 anak stunting di Reco berdasarkan ePPGBM penimbangan serentak bulan Agustus lalu. Maka dari itu, pihaknya melakukan upaya pengentasan salah satunya dengan pemberian makanan tambahan selama 90 hari. Namun dia menilai hal ini masih belum sesuai yang diharapkan.
“Pemberian makan selama 90 hari itu per hari Rp30 ribu, kalau sehari saja sudah Rp2,7 juta. Kalau dikalikan dengan 134 anak sudah Rp500 juta, sementara anggaran terbatas. Maka kami harap ada gotong royong, baik dari CSR, dinas terkait maupun pihak manapun yang ingin membantu pengentasan stunting,” kata Singgih.
Dia juga menekankan pada para ibu yang memiliki baduta maupun balita, yang harus punya pemahaman kondisi stunting pada anak. Kendati tinggi badan masih bisa teratasi, namun stunting ini berakibat pada kondisi otak anak. “Ini juga ada pemberian tablet penambah darah untuk remaja putri, kami rasa ini upaya yang baik supaya mereka siap menyongsong masa depan,” kata Singgih menekankan.
Pada saat yang sama, Kepala Dinas Kesehatan dr. M. Riyatno mengingatkan bahwa di Wonosobo masih terdapat 127 desa dengan prevalensi stunting lebih dari 14 persen. Dikatakan Riyatno, di Reco angka prevalensi stunting masih 26 persen, sehingga perlu untuk mendapat perhatian.
“Kami juga ingatkan bahwa kesehatan lingkungan berpengaruh terhadap stunting, di desa ini tingkat ODF nya baru 60 persen. Masalah lingkungan punya pengaruh pada penyakit cerna, diare, stunting, dan lain-lain,” kata Riyatno.
Hal senada juga dikatakan Ketua Tim Penggerak PKK Wonosobo Dyah Retno, yang menekankan pada masyarakat agar melakukan pola hidup bersih dan sehat. Selain itu, terkait dengan ODF dia mengajak masyarakat lebih peduli agar tak menimbulkan penyakit dan mencegah stunting. “Kami juga mengajak para ibu agar lebih memperhatikan pemenuhan gizi untuk anaknya. Gizi yang seimbang tidak harus mahal, dan pengentasan stunting harus diselesaikan bersama-sama,” tutup Dyah. (ang)